ANALISIS EFEKTIVITAS MENGGUNAKAN METODE OVERALL EQUIPMENT EFFECTIVENESS (OEE) PADA SISTEM PEMBAKARAN FURNACE DALAM PRODUKSI REFUSE DERIVED FUEL (RDF) DI RDF PLANT JAKARTA

2202411012, Kevin SAmuel Sijabat (2026) ANALISIS EFEKTIVITAS MENGGUNAKAN METODE OVERALL EQUIPMENT EFFECTIVENESS (OEE) PADA SISTEM PEMBAKARAN FURNACE DALAM PRODUKSI REFUSE DERIVED FUEL (RDF) DI RDF PLANT JAKARTA. Lainnya thesis, Politeknik Negeri Jakarta.

Warning
There is a more recent version of this item available.
[thumbnail of Pendahuluan, BAB 1&5] Text (Pendahuluan, BAB 1&5)
SKRIPSI KEVIN (PENDAHULUAN, BAB 1&5).pdf

Download (5MB)
[thumbnail of BAB 2, 3, 4] Text (BAB 2, 3, 4)
SKRIPSI KEVIN (BAB 2, 3, 4).pdf
Restricted to Hanya Civitas Akademika PNJ

Download (1MB)
[thumbnail of SEMINAR NASIONAL] Text (SEMINAR NASIONAL)
Semnas_2026_kevin.pdf
Restricted to Hanya Staff Repositori

Download (547kB)

Abstrak

RDF Plant Jakarta merupakan fasilitas yang mengolah sampah perkotaan menjadi bahan bakar alternatif Refuse Derived Fuel (RDF), di mana sistem pembakaran furnace memiliki peran krusial sebagai penyuplai energi panas dalam proses pengolahan termalnya. Namun, fasilitas ini kerap mengalami kendala dalam mencapai target produksi yang diindikasikan akibat rendahnya efektivitas operasional furnace. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat efektivitas sistem pembakaran furnace menggunakan metode Overall equipment effectiveness (OEE), mengidentifikasi akar permasalahan dengan diagram Fishbone, serta mengevaluasi potensi kegagalan menggunakan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata nilai OEE pada periode 22 Desember 2025 hingga 22 Januari 2026 adalah sebesar 16,22% (dengan rincian Availability 24,53%, Performance 68,22%, dan Quality 100%), yang mana capaian tersebut masih berada jauh di bawah standar JIPM yaitu 85%. Berdasarkan analisis Fishbone dan FMEA, penyebab kegagalan operasional paling dominan berasal dari aspek material, yakni manajemen bahan bakar yang kurang terorganisir dengan nilai Risk Priority Number (RPN) tertinggi sebesar 18. Selain itu, terdapat penyumbang kerugian dari faktor lingkungan berupa tekanan udara negatif (RPN 18) dan tata letak alat bantu kerja yang kurang tepat (RPN 18). Sebagai tindak lanjut, direkomendasikan agar pihak operasional melakukan inspeksi yang mendalam terhadap setiap permasalahan sistem pembakaran furnace menggunakan metode FMEA, guna mengurai secara presisi skala prioritas risiko sebelum mengeksekusi langkah perbaikan di masa mendatang.

Tipe Dokumen: Thesis / Skripsi / Tugas Akhir (Lainnya)
Subjek: 000 - Komputer, Informasi dan Referensi Umum > 000 Ilmu komputer, ilmu pengetahuan dan sistem-sistem > 001 Ilmu pengetahuan
Bidang, Unit, atau Jurusan Yang Ditujukan: Teknik Mesin > Manufaktur D4
User ID Pengunggah: Kevin Samuel Sijabat
Date Deposited: 06 Aug 2026 07:21
Last Modified: 06 Aug 2026 07:21
URI: https://repository.pnj.ac.id/id/eprint/43225

Available Versions of this Item

Actions (login required)

View Item
View Item