Validasi data adalah fondasi yang sering dilupakan saat tim sibuk mengejar kecepatan analisis dan peluncuran fitur. Ketika data masuk dari banyak sumber—form, log aplikasi, sensor, hingga API—risiko duplikasi, nilai kosong, dan anomali makin besar. Salah satu pendekatan yang bisa dipakai untuk menertibkan kualitas data adalah teknik validasi menggunakan acuan RTP. Dalam konteks artikel ini, RTP dipakai sebagai kerangka acuan “Reference–Threshold–Pattern” untuk memastikan data sesuai referensi, melewati ambang batas yang wajar, dan mengikuti pola yang disepakati.
Komponen pertama adalah Reference, yaitu rujukan resmi yang dijadikan patokan. Rujukan bisa berupa master data (kode wilayah, daftar produk), kamus data, atau skema database. Komponen kedua adalah Threshold, yakni batas toleransi untuk menilai kewajaran nilai numerik atau frekuensi kejadian. Contohnya, jumlah transaksi harian tidak boleh melonjak lebih dari 300% dibanding median 7 hari tanpa penanda khusus. Komponen ketiga adalah Pattern, yaitu pola format dan struktur data, seperti regex email, struktur nomor identitas, atau pola timestamp ISO-8601.
Skema yang tidak seperti biasanya adalah menerapkan RTP secara zig-zag, bukan berurutan. Alih-alih memulai dari format lalu range, Anda bisa memulai dari Threshold untuk menyaring anomali besar, kemudian mengecek Reference untuk memastikan nilai masuk dalam daftar sah, dan terakhir Pattern untuk merapikan format. Strategi zig-zag ini efektif saat volume data tinggi karena Anda bisa menghemat sumber daya: data yang sudah “jelas bermasalah” disingkirkan lebih awal sebelum validasi detail dilakukan.
Validasi Reference memastikan data terikat pada rujukan yang sama di seluruh sistem. Praktiknya meliputi pengecekan foreign key, pencocokan kode terhadap master table, serta normalisasi penulisan (misalnya “DKI Jakarta” vs “Jakarta DKI”). Jika sumber data berasal dari vendor, buat lapisan mapping: setiap kode vendor dipetakan ke kode internal. Dengan begitu, saat ada nilai baru yang belum dikenali, sistem bisa menandainya sebagai unknown reference dan tidak memaksanya masuk ke analitik.
Threshold tidak selalu berarti batas statis. Anda dapat memakai ambang dinamis: persentil, median moving window, atau z-score untuk membaca perilaku normal. Contoh penerapan: umur pelanggan tidak boleh < 0 atau > 120; diskon tidak boleh melewati 90% tanpa otorisasi; lonjakan event login dari satu IP tidak boleh melebihi rate tertentu per menit. Saat pelanggaran threshold terjadi, data bisa diarahkan ke antrean karantina untuk ditinjau, bukan langsung dibuang.
Validasi Pattern bekerja pada level bentuk data. Email, nomor telepon, kode pos, UUID, hingga format tanggal perlu konsisten agar pipeline tidak rapuh. Gunakan regex secara selektif: terlalu ketat dapat menolak data sah, terlalu longgar membuat data kotor lolos. Untuk tanggal, tetapkan satu format internal, lalu lakukan parsing dari berbagai format input. Untuk teks bebas, terapkan aturan trimming, penghapusan karakter kontrol, serta standar kapitalisasi bila dibutuhkan.
Teknik RTP paling rapi bila ditanam sejak awal: pada tahap intake (validasi cepat), tahap transform (validasi mendalam), dan tahap pemuatan akhir (constraint database). Simpan juga audit trail: catat aturan yang dilanggar, nilai asli, sumber data, dan waktu kejadian. Log ini memudahkan tim memahami apakah masalah datang dari form, integrasi API, atau perubahan skema. Untuk kebutuhan bisnis, berikan label kualitas seperti “valid”, “needs review”, atau “rejected” agar pengguna data tidak salah interpretasi.
Pastikan reference selalu versi terbaru dan memiliki pemilik yang jelas. Tetapkan threshold berbeda untuk tiap segmen data karena perilaku normal tidak selalu sama. Dokumentasikan pattern dalam kamus data agar konsisten lintas tim. Terakhir, uji aturan RTP dengan data historis dan data ekstrem, sehingga Anda tahu dampaknya terhadap false positive dan false negative sebelum aturan diaktifkan penuh pada produksi.